Kanowit

Knowit, pekan yang terpencil di pedalaman Sarawak. Bahasa Iban menjadi bahasa komunikasi orang-orang di pekan Kanowit. Pekannya kecil, hanya terdapat beberapa deretan kedai runcit, namun sudah cukup untuk memenuhi keperluan orang kampung membeli belah. Berdekatan dengan kawasan kedai terdapat juga sebuah masjid yang kecil menandakan terdapat juga orang Islam bermastautin di sana terutama para penjawat awam yang bertugas di sana malahan  gerai makcik Melayu yang menjual goreng pisang, karipap dan kuih muih begitu laris dibeli oleh orang tempatan.

Orang-orang di Kanowit begitu ramah, suka bertegur sapa, ringan mulut dan tidak camah mata, ini  membuktikan mereka masih mengamalkan sikap dan budaya kekeluargaan dalam masyarakat Kanowit. Mungkin dikeranakan pekan ini kecil membuatkan mereka sudah mengenali kesemua warga yang menjadi penghuni tetap pekan kecil ini sekalipun mereka datang dari berlainan kampung terpencil yang terpaksa menggunakan bot atau perahu untuk sampai ke pekan ini.

Hujan yang lebat menyambut kedatanganku di sana membuatkan cuaca tangah hari yang panas bertukar menjadi dingin ditambah lagi dengan percikan hujan yang membasahi seluruh badan beserta angin menambahkan lagi kedinginan. Hujan bukanlah penghalang untukku menikmati keindahan pekan Knowit, berjalan-jalan di tebing sungai Knowit  berdekatan jetti penurunan penumpang terdapat tamu  atau bazar  kecil yang menjual beraneka pakaian dan keperluan seharian masyarakat. Aku sempat membeli beberapa set lampu suluh  dan lampu suluh yang boleh dicharge dan boleh digunakan sehingga 120 jam untuk kuhadiahkan kepada adikku bagi kegunaannya ‘nyuluh duyan’ atau ‘nyuluh pelanduk’.  Setelah puas berjalan-jalan di pekan Knowit yang kecil dengan berbagai kenangan dan pengalaman baru, aku meninggalkan pekan tersebut berserta iringan hujan yang lebat.

Pintu gerbang pekan Knowit.

Pekan Kanowit boleh didatangi melalui sungai dan juga jalan raya.

Deretan kedai di pekan Knowit.

Bersantai sambil menunggu bot.

Berteduh sementara menunggu hujan reda.

Di kaki lima, para pengunjung pekan mundar mandir sementara menunggu hujan reda.

Leave a comment

Filed under fotorafi, Kenangan, Rencana

Komen anda:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s