1 Muharram 1431

Begitu cepat masa berlalu, 1 Muharam 1431(H) membuka tiranya. Terasa sahdu  meninggalkan tahun 1430, Senja, sebelum terbenamnya matahari ramai orang melapangkan masa bertafakur di rumah-rumah malahan di masjid-masjid  memohon keampunan kehadrat Illahi agar diampunkan segala dosa yang telah lalu. Aku menghadirkan diri di Masjid Pengkalan Batu. Aku terus beriktikaf di sana sehinga usai Fardhu Isya. Kebetulan pada tahun ini 1 Muharam jatuh pada hari Khamis malam Jumaat, amat wajar bagiku memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa, Sifat Allah yang Maha Rahim, maha mengampun dosa hambanya sekalipun sebanyak buih di lautan selagi hamba-Nya itu  tidak menyekutukan-Nya.

Tentang kehidupan ini, kita melaluinya mengikut masa. Masa berlalu, masa juga datang begitulah juga dengan kehidupan kita. Kata orang yang bijak pandai kehidupan kita hanyalah sedutan keluar masuknya nafas. Apabila berhentinya nafas berhentilah kehidupan kita di dunia ini. Masa yang berlalu sudah tidak dapat kita kejar lagi, besok hari belum pasti… hari ini, hari inilah ketika kita masih menyedut dan menghembuskan nafas kita perlu mengingat betapa pentingnya kehidupan kita semasa kini , malahan lebih penting lagi untuk kehidupan kita di alam lain, alam yang selama-lamanya bukan berada di dunia yang fana ini. Sabda Nabi SAW. barang siapa dapat mengucap akan kalimah Syahadah pada akhir kalamnya maka wajib syurga baginya. Apakah kita bisa menyebut kalimah tersebut  pada akhir kalam kita kalau masuk keluarnya nafas ke dalam jasad kita bukan kalimah Allah. Selama ini, apakah yang kita ingatkan  ketika kita menghela nafas dan ketika kita menghembuskannya? Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk beribadat, beramal, mengingat, berfikir, melihat, merasa akan kehibatan Allah SWT.  Kata alim ulama, akhir kalam kita dapat ditentukan semasa kita hidup lagi, kalau kita mencintai Allah SWT dan Rasul dengan iklas maka begitulah yang akan kita dapat. Kalau kita mencintai selain Allah SWT dan Rasul SAW maka itulah yang kita dapat sesungguhnya kalau ‘botol kicap yang pecah pasti air kicap juga yang tumpah’ begitulah perumpamaan akhir kalam kita. Ya Allah! berilah kami taufik dan hidayat-Mu, kekalkanlah kami dengan taufik dan hidayat-Mu, Ya Akramal Akramin hidupkan kami dengan taufik dan hidayat-Mu dan matikan kami juga dengan taufik dan hidayat-Mu sebagaimana Engkau telah berikan kepada  orang-orang  yang telah Engkau berikan taufik dan hidayat sebelum kami. Amin!

Leave a comment

Filed under Kenangan

Komen anda:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s